
Para peserta mengikuti penilaian potensi dan kompetensi ASN dengan metode CACT di Laboratorium Komputer BKPSDM, Rabu (04/12/2024). Foto : Andreas
KOMINFOKUBAR-SENDAWAR. Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Kutai Barat menyelenggarakan kegiatan Penilaian Potensi dan Kompetensi Aparatur Sipil Negara (ASN) menggunakan metode CACT. Kegiatan yang berlangsung di ruang laboratorium komputer Kantor Korpri ini diikuti oleh 715 Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang berasal dari berbagai jabatan, mulai dari administrator hingga pelaksana. Pelaksanaan tes ini berlangsung selama enam hari, dari tanggal 2 hingga 7 Desember 2024.
Kepala BKPSDM Kabupaten Kutai Barat, Yuli Permata Mora, menjelaskan bahwa kegiatan ini bagian dari upaya percepatan reformasi birokrasi yang berlandaskan pada sistem merit. Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN). Menurutnya, pemetaan potensi dan kompetensi ini bertujuan untuk menghasilkan data yang dapat digunakan sebagai dasar dalam penerapan manajemen talenta ASN di Kabupaten Kutai Barat ke depan. “Pemetaan potensi dan kompetensi ASN ini sangat relevan, mengingat Kutai Barat menjadi salah satu daerah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), yang memerlukan ASN dengan kompetensi dan potensi yang sesuai dengan tuntutan masa depan,” jelasnya saat diwawancarai di Laboratorium Komputer BKPSDM, Rabu (04/12/2024).
Dalam Surat Sekretaris Utama Badan Kepegawaian Negara (BKN) yang menginstruksikan tujuh kabupaten/kota di sekitar IKN untuk mengikutsertakan 20.000 ASN dalam program ini. Kutai Barat mendapatkan kuota untuk 715 ASN pada tahap pertama. Yuli Permata Mora menjelaskan bahwa setelah menerima informasi dari BKN, BKPSDM segera berkomunikasi dengan Pusat Penilaian Kompetensi ASN untuk mengajukan kuota pelaksanaan di Kabupaten Kutai Barat. “Tahap pertama ini melibatkan 715 ASN, dan kami berharap proses ini dapat diikuti oleh seluruh ASN di Kabupaten Kutai Barat di masa mendatang,” ungkapnya.
Dalam tes CACT, ada tiga area kompetensi yang dinilai, yakni meliputi Kompetensi Manajerial dan Sosial-Kultural untuk mengukur kemampuan ASN dalam mengelola tugas dan hubungan sosial, melalui 9 instrumen. Literasi Digital untuk menilai kemampuan ASN dalam memanfaatkan teknologi digital untuk menunjang pekerjaan, dengan 4 instrumen. Kemudian Emerging Skill, mengukur keterampilan baru yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan dunia kerja yang terus berkembang, dengan 12 instrumen.
Ia juga menegaskan bahwa hasil dari tes CACT ini akan menjadi dasar penting dalam merancang program pengembangan kompetensi yang lebih terarah. “Kami berharap hasil pemetaan ini tidak hanya menjadi data statistik, tetapi juga menjadi acuan untuk merancang pelatihan dan bimbingan teknis guna memperbaiki kekurangan pada kompetensi ASN,” ungkapnya.
Selain itu, pemetaan kompetensi ini juga diharapkan menjadi pijakan dalam penerapan manajemen talenta ASN di Kabupaten Kutai Barat, agar terarah dalam mengembangkan potensi dan perubahan tuntutan pekerjaan di masa depan. Maka tes ini sebagai langkah awal untuk meningkatkan kualitas ASN, guna mempercepat pencapaian tujuan reformasi birokrasi di Kabupaten Kutai Barat. “Pemetaan kompetensi ini diyakini akan memberikan dampak positif bagi pengembangan karir ASN, serta memperkuat kapasitas aparatur dalam menghadapi tantangan dan perubahan di masa depan,” pungkasnya.
Peliput : Aryonanda/Andreas | Peliput/Penulis : Andreas | Editor : Donni
