Objek Wisata Kuburan Kuno Dayak Luangan Di Kampung Tanjung Soke

Objek Wisata Kuburan Kuno Dayak Luangan Di Kampung Tanjung Soke, Kecamatan Bongan. Foto : Ester

KOMINFOKUBAR – BONGAN. Kampung Tanjung Soke Kecamatan Bongan Kutai Barat yang terpilih diantara 150 kampung dalam Program Kampung Iklim (Proklim) di Kalimantan Timur. Ternyata memiliki potensi Wisata yang belum banyak diketahui.

Kampung yang berdiri sekitar tahun 1960-an, ternyata memiliki sejarah yang tidak dimiliki kampung lain. Dimana Kampung Dayak Luangan ini memiliki luas wilayah 19.750 hektar dan dihuni oleh 41 KK atau 200 jiwa.

Potensi yang dimiliki Tanjung Soke sangat bagus terutama di sektor pariwisata. Karena memiliki cagar budaya yang berusia puluhan tahun, berupa Mumi dan kuburan kuno suku Dayak Luangan yang sangat berbeda dengan suku Dayak lainnya. Dimana kuburannya berukir terbuat dari kayu Ulin yang di atasnya terdapat penyimpanan tulang-belulang. Serta puluhan patung-patung khas suku Dayak Luangan terdapat di tiga tempat terpisah.

Kepala Adat Kampung Tanjung Soke Ariansyah saat di temui oleh tim media (Kamis, 4/5/2023)  menjelaskan bahwa kampung Tanjung Soke memiliki sejarah yang belum banyak di ketahui orang. Bahkan penduduk Kampung Tanjung Soke sendiri ada yang belum tau tentang sejarah kampungnya sendiri.

Adapun kendala saat ini yang membuat wisata tanjung Soke belum banyak di kunjungi yaitu dikarenakan akses belum memadai. Sehingga masyarakat luas banyak belum mengetahui keberadaan kampung dan wisata tersebut.

“Sebenarnya kampung kami memiliki obyek wisata yang memang belum terangkat. Salah satunya cagar budaya Mumi yang berada di dalam Rumah Adat dan kuburan Dayak Luangan yang telah berusia puluhan tahun”, ucap petinggi.

Salah satu dari tiga kuburan tersebut terdapat makam Nenek Midah (istri Jamhari yang merupakan kepala adat waktu dulu) yang sebelumnya sangat berjasa dalam menyiarkan agama Islam di Tanjung Soke. Saat itu masyarakat hanya mengenal kepercayaan animisme. Namun berkat jasa dan jerih payah Nenek Midah akhirnya masyarakat mengenal dan memeluk Islam.

Namun seiring berjalannya waktu Nenek Midah (70 tahun) tutup usia, dimana pada saat itu masyarakat Tanjung Soke yang sebagian baru mualaf, dan belum bisa melaksanakan tata cara fardu khifayah. Akhirnya nenek Midah dikebumikan secara adat dan keyakinan suku dayak Luangan, dengan dimasukkan ke dalam lunggun (peti mati).

Setelah sekian tahun dan masyarakat suku Luangan semuanya sudah memeluk agama Islam. keluarga Nenek Midah berinisiatif menguburkan jasad Nenek Midah sesuai syariat Islam yang sebelumnya masih berada dalam lungun yang jasadnya masih utuh (mumi).

Akan tetapi pasca dikebumikan ternyata sering terjadi musibah pada keluarga Nenek Midah. Yang pada akhirnya waktu keluarga kembali menggali kuburannya, dimana jasad yang masih utuh tersebut dimasukkan kedalam peti yang tentunya melalui prosesi suku Luangan. Dan Hingga kini jasad nenek Midah masih tersimpan di lamin Suku Luangan bersama ratusan barang-barang bersejarah lainnya.

Selain itu, lanjut Petinggi, Tanjung Soke juga memiliki obyek wisata alam seperti riam Ngewan, hutan alam, adat istiadat dan tradisi Suku Luangan, berbagai kerajinan dan tarian-tarian asli Suku Luangan.

“Sebenarnya sudah lama kami mengembangkan kampung wisata, namun terkendala akses jalan menuju kesini. Kedepan melalui dana desa, kami membangun gedung kesenian. Tidak hanya untuk pelestarian seni budaya juga tempat penyimpanan koleksi barang leluhur. Diantaranya, beberapa jenis mandau, guci, gong, patung, tombak dan barang lainnya yang berjumlah lebih kurang 100 buah,” jelasnya.

Untuk memajukan kampung Tanjung Soke sebagai kampung wisata tentu diperlukan kerjasama dan sinergi dengan berbagai pihak. Khususnya dalam mensosialisasikan dan mempromosikan potensi wisata oleh pemerintah Kutai Barat maupun pihak swasta.

Penulis : Ester

Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai Barat
Perkantoran IV Sendawar Kutai Barat
Tel – +62 (545) 455564

Email – pemda@kutaibaratkab.go.id